Perjalanan
Aliran-aliran Ilmu Kalam (Ilmu Akidah)
Nabi Muhammad saw
Abu bakar Ash-Shiddiq
Umar bin Khotob
Usman bin Affan
Mu’awwiyah
Ali bin Abi Tholib
Khawarij – Murji’ah – Syi’ah – Jabariah – Qadariah – Mu’tazilah – Asy’ariah
Khawarij dan Murji’ah
Khawarij : Abdullah bin Sahab Ar-Rasyibi
Doktrin-doktrin pokok Khawarij
a.
Khalifah
atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam,
b.
Khalifah
tidak harus berasal dari keturunan Arab,
c.
Setiap
orang muslim berhak menjadi khalifah asal sudah memenuhi syarat,
d.
Khalifah
dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan
syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh jika melakukan kezaliman,
e.
Khalifah
sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun
ketujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman r.a. dianggap telah menyeleweng,
f.
Khalifah
Ali juga sah, tetapi setelah terjadi arbitrase, ia dianggap menyeleweng,
g.
Mu’awiyah
dan Amr bin Al-Ash serta abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan
telah menjadi kafir
h.
Pasukan
perang jamal yang melawan Ali juga kafir
i.
Seseorang
yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim karenanya harus dibunuh. Mereka
menganggap bahwa seorang muslimtidak lagi muslim (kafir) disebabkan tidak mau
membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir, dengan resiko ia menanggung
beban harus dilenyapkan pula,
j.
Setiap
muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Apabila tidak mau
bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam dar al harb (Negara
musuh), sedangkan golongan mereka dianggap berada dalam dar Islam
(Negara Islam)
k.
Seseorang
harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng,
l.
Adanya
wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga, sedangkan
yang jahat harus masuk ke dalam neraka),
m.
Amar
makruf nahi munkar,
n.
Memalingkan
ayat-ayat Al-Quran yang tampak mutasyabihat (samar),
o.
Al-Qur’an
adalah mahluk,
p.
Manusia
bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan,
Doktrin-doktrin
Pokok Murji’ah (Jahm bin Shafwan)
W. Montgomery
Watt
a.
Penangguhan
keputusan terhadap Ali dan Mu’awiyah hingga Allah memutuskannya diakhirat
kelak,
b.
Penangguhan
Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidun,
c.
Pemberian
harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh
ampunan dan rahmat dari Allah SWT
d.
Doktrin-doktrin
murji’ah menyerupai pengajaran (mazhab) para skeptic dan empiris dari kalangan
Helenis
Harun Nasution
a.
Menunda
hukuman atas Ali, Mu’awiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-asy’ari yang terlibat
tahkim hingga kepada Allah pada hari kiamat kelak,
b.
Menyerahkan
keputusan kepada Allah SWT, atas orang muslim yang berdosa besar,
c.
Meletakkan
(pentingnya) iman lebih utama daripada amal,
d.
Memberikan
pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan
rahmat dari Allah SWT
Abu A’la Al-Maududi
a.
Iman
adalah cukup dengan percayakepada Allah SWT. Dan Rasul-Nya. Adapun amal atau
perbuatan bukan merupakan keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini,
seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan apa yang difardukan
kepadanya dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar,
b.
Dasar-dasar
keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat
tidak dapat mendatangkan madharat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk
mendapatkan pengampunan, manusia cukup menjauhkan diri dari syirik dan
meninggal dalam keadaan akidah tauhid.
Jabariah dan Qadariah
Jabariah
Para Pemuka dan Doktrin-doktrin Pokok Jabariah
a.
Jahm bin Shafwan
Faham Jabariah adalah suatu kelompok atau aliran yang berusaha menghilangkan
perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah
SWT. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpakasa
(fatalism), yaitu paham yng mengatakan perbuatan manusia telah ditentukan dari
semula oleh qadha dan qadar Tuhan
مّا كانوا
ليؤمنوا الاّ ان يّشاء الله ........(الانعام : ااا)
والله خلقكم وما
تعملون (الصافات : 96
Pendapat-pendapatnya berkaitan dgn Teologi
a.
Manusia
tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak
sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan lebih
terkenal dibandingkan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam
tuhan, meniadakan sifat Tuhan (nafsu as-sifati), dan melihat Tuhan diakhirat
b.
Surga
dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
c.
Iman
adalah makrifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya sama
dengan konsep iman yang dimajukan kaum Mur’jiah.
d.
Kalam
Tuhan adalah makhluk. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan
manusia, seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak
dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
Ja’d bin Dirham
Doktrin:
1.
Al-Qur’an
itu adalah mahluk. Oleh karena itu dia baru
2.
Allah
tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat,
dan mendengar.
3.
Manusia
terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
4.
Tuhan
tidak dapat dilihat di akhirat, akan tetapi Tuhan dapat memindahkan potensi
hati (makrifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.
Qadariah (Ma’bad
Al-Jauhani w.80 H)
Merupakan aliran yang percaya bahwa (1) segala tindakan manusia
tidak diintervensi tangan Tuhan. Dengan kata lain, tiap-tiap orang adalah
pencipta bagi segala perbuatannya. (2) Seseorang diberi ganjaran surga ataupun
ganjaran siksa neraka itu berdasarkan pilihannya sendiri, bukan oleh takdir
Tuhan (3) Manusia tidak pantas menerima siksaan atau tindakan salah yang
dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya.
S. Ar-Ra’d ayat 11
انّ الله
لايغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما با نفسهم
S. An-Nisa’ ayat 111
ومن يكسب اثما
فانّما يكسبه على نفسه
Dan barang siapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya
untuk (kesulitan) dirinya sendiri,….
Mu’tazilah (Washil bin
Atha’ w.131H)
Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar itu
mukmin dan tidak kafir
Al-Ushul Al-Khamsah: Lima Ajaran dasar Teologi Mu’tazilah
1.
At-Tauhid (pengesaan Tuhan)
a.
Mu’tazilah
menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan
(antropomorfisme/tajassum), dan menolak Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.
b.
Tuhan
maha melihat, mendengar, kuasa dsb itu bukan sifat melainkan dzatnya.
c.
Tidak
ada satupn yang dapat menyerupai Tuhan, begitu pula sebaliknya, Tuhan tidak
serupa dengan mahluknya.(Asy-Syura ayat: 11)
ليس كمثله شئ......
2.
Al-Adl
Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil
menurut sudut pandang manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya
yang baik (ash-shalah) dan terbaik (al-ashlah), dan bukan yang
tidak baik. Ajaran adil berkaitan dengan:
a.
Perbuatan manusia
Manusia
melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari kehendak dan
kekuasaan Tuhan.
b.
Berbuat baik dan terbaik
Kewajiban Tuhan
untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan
aniaya karena akan menimbulkan kesan bahwa Tuhan penjahat dan penganiaya, dan
sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan melakukannya.
c.
Mengutus rasul (mengutus Rasul Kewajiban Tuhan), alasannya:
a.
Tuhan
wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat terwujud, kecuali
dengan mengutus Rasul
b.
Al-Qur’an
dengan tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasihan kepada
manusia. Cara terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan pengutusan Tuhan.
c.
Tujuan
diciptakannya manusia untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut
berhasil, tidak ada jalan lain selain mengutus rasul.
3.
Al-Wa’d wa Al-Wa’id (Janji dan ancaman)
Ajaran ketiga
ini tidak memberikan peluang bagi Tuhan , selain menunaikan janjinya, yaitu
memberikan pahala orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat,
kecuali orang yang bertobat nasukha.
4.
Al-Manzilah baina al-Manzilatain
Status orang beriman
(mukmin) yang melakukan dosa besar. Orang tersebut berada di antara dua
posisi/tempat
5.
Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy Al-Munkar
Pengakuan
keimanan harus dibuktikann dengan perbuatan baik, diantaranya dengan menyuruh
orang berbuat baik dan dan mencegahnya dari kejahatan.
Syarat-syarat:
a.
Ia
mengetahui perbuatan yang disuruh itu ma’ruf dan yang dilarang itu munkar.
b.
Ia
mengetahui bahwa kemungkaran telah dilakukan orang.
c.
Ia
mengetahui bahwa perbuatan amar ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa
madharat yang lebih besar.
d.
Ia
mengetahui paling tidak menduga bahwa tidakannya tidak akan membahayakan diri
dan hartanya.
No comments:
Post a Comment