SALAF
(IBN HANBAL DAN IBN TAIMIAH)
IMAM AHMAD BIN HANBAL (780-855 M)
1.
PEMIKIRAN KEIMANAN IBN HANBAL
a.
Ayat-ayat
mutasyabihat
الرّحمن
على العرش استوى (طه : ه )
b.
Status
Al-Qur’an bersifat Qadim
2.
PEMIKIRAN KEIMANAN IBN TAIMIAH (661-729 H)
a.
Berpegang
teguh pada nash (teks Al-Qur’an dan Hadits)
b.
Tidak
memberikan ruang gerak yang bebas pada akal
c.
Di
dalam Islam yang diteladani hanya tiga generasi (Sahabat, tabiin dan tabii
tabiin)
d.
Menerima
sepenuhnya sifat dan nama-nama Allah dengan tidak mengubah maknanya (min ghairi
ta’arif)
e.
Tidak
menghlangkan pengertian lafaz (min ghair ta’thil)
f.
Tidak
mengingkarinya (min ghair ilhad)
g.
Tidak
menggambarkan bentuk Tuhan, baik dalam pikiran, hati maupun dgn indra (min ghair takyif at-takyif)
h.
Tidak
menyerupakan (apalagi menyamakan) sifat-sifat-Nya (min ghair tamtsil rabb
al-‘alamin)
KHALAF;
AHLUSSUNNAH
(AL-ASY’ARI
DAN AL-MATURIDI
AL-ASY’ARI (875-935 M)
a.
Sifat-sifat
Allah seperti mempunyai tangan dan kaki
tidak boleh diartikan secara harfiah, tetapi secara simbolis. Sifat-sifat Allah
unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya
mirip.
b.
Kebebasan
dalam Berkehendak (Free-will)
Allah pencipta (Khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia adalah
yang mengupayakannya (muktasib)
c.
Akal
dan wahyu dan criteria baik dan buruk
-Al-Asy’ari mengutamakan wahyu sementara Mu’tazilah mengutamakan
akal.
-dalam menentukan baik buruk, Al-Asy’ari bahwa harus berdasarkan
wahyu, sedang Mu’tazilah mengutamakan akal.
d. Qadimnya Al-Qur’an
Mu’tazilah: Al-qur’an adalah diciptakan (mahluk) dan tidak Qadim
Hambali: Al-Qur’an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak
diciptakan)
Asy’ari: Al-Qur’an tidak diciptakan
e.
Melihat Allah
Mu’tazilah:
mengingkari Ru’yatullah
Asy’ari:
Allah dapat dilihat diakhirat, tetapi tidak dapat digambarkan.
f.
Keadilan
Mu’tazilah: mengharuskan Allah berbuat adil kepada manusia
Asy’ari: Allah tidak memiliki keharusan apapun kepada manusia.
g.
Kedudukan
orang berdosa
Asy’ariyah menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah
antara iman dan kufur.
PERBANDINGAN
ANTARALIRAN
PELAKU
DOSA BESAR
a.
Aliran Khawarij:
Al-Maidah
ayat 44: ….Barang siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itulah orang-orang Kafir. Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa
besar dianggap kafir
b.
Aliran Murji’ah: Pelaku
dosa besar tidak menjadi kafir. Disiksa di neraka dan tidak kekal.
c.
Aliran Mu’tazilah: Al-Manzilah
bain al-manzilatain.
d.
Aliran Asy’ariah: tidak
mengkafirkan bagi orang yang berbuat dosa besar, dan mereka masih beriman. Akan
tetapi, jika dosa besar itudilakukannya dengan menganggap bahwa hai ini
diperbolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia dipandang telah
kafir.
e.
Aliran Syi’ah Zaidiah:
Percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, jika ia
belum bertobat dengan pertobatan yang sesungguhnya.
PERBANDINGAN ANTARALIRAN
IMAN DAN KUFUR
a.
Khawarij:
orang yang menyatakan diri beriman kepada Allah SWT dan Muhammad saw, tetapi
tidak melaksanakan kewajiban agama maka mereka telah kafir
b. Murji’ah: Iman terletak dalam Qalbu, adapun ucapan dan perbuatan
tidak selamanya merupakan refleksi dari yang ada di dalam qalbu.Imannya masih
sempurna walaupun ia tidak melaksanakan kewajiban agama.
c. Mu’tazilah: Amal perbuatan merupakan salah satu unsure terpenting
dalam konsep Iman.
d. Asy’ariah: Iman adalah Tashdiq (membenarkan dalam hati), Qaul, dan
Amal. Persyaratan minimal untuk adanya iman hanya tashdiq.
PERBANDINGAN
ANTARALIRAN
PERBUATAN
TUHAN DAN PERBUTAN MANUSIA
PERBUATAN TUHAN
a.
Mu’tazilah:
Perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Atau kewajiban
Tuhan berbuat baik dan Tuhan tidak berbuat dholim.
b.
Asy’ariah:
Tuhan dapat berbuat sekehendak hati-Nya terhadap mahluk, karena Tuhan mempunyai
kekuasaan dan kehendak mutlak.
PERBUTAN
MANUSIA
a.
Jabariah:
segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya.
b.
Qadariah:
segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri.
c.
Mu’tazilah:
manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya (free will).
d.
Asy’ariah:
manusia diibaratkan anak kecil yang tidak mempunyai pilihan dalam hidupnya.
PERBANDINGAN
ANTARALIRAN
SIFAT-SIFAT
TUHAN
1.
Mu’tazilah:
Tuhan tidak mempunyai sifat jasmani, apabila mempunyai sifat, tentu Tuhan
mempunyai ukuran panjang, lebar, dalam, dll. dan Tuhan tidak dapat dilihat di
akhirat
2.
Asy’ariah:
dengan mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Dan Tuhan dapat dilihat di
akhirat.
3.
Syi’ah
Rafidhah: menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Mereka menilai bahwa
pengetahuan itu bersifat baru tidak kodim. Bahwa Allah tidak bersifat tahu
terhadap sesuatu sebelum Allah menghendakinya.
PERBANDINGAN
MUTLAK TUHAN
DAN
KEADILAN TUHAN
1.
-Mu’tazilah:
Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat dholim dengan memaksakan kehendak pada
hamba-Nya kemudian hambalah yang harus menanggung akibat perbuatan-Nya.
-kekuasaan Tuhan sebenarnya tidak mutlak lagi. Ketidak mutlakan
Tuhan disebabkan oleh kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia.
2. Asy’ariah: Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap mahluk-Nya
dan dapat berkehendak semau-Nya.
No comments:
Post a Comment