Wednesday, 4 February 2015

Materi salaf



SALAF
(IBN HANBAL DAN IBN TAIMIAH)
IMAM AHMAD BIN HANBAL (780-855 M)
1.  PEMIKIRAN KEIMANAN IBN HANBAL
a.      Ayat-ayat mutasyabihat
الرّحمن على العرش استوى (طه : ه )
b.     Status Al-Qur’an bersifat Qadim
2.     PEMIKIRAN KEIMANAN IBN TAIMIAH (661-729 H)
a.      Berpegang teguh pada nash (teks Al-Qur’an dan Hadits)
b.     Tidak memberikan ruang gerak yang bebas pada akal
c.     Di dalam Islam yang diteladani hanya tiga generasi (Sahabat, tabiin dan tabii tabiin)
d.     Menerima sepenuhnya sifat dan nama-nama Allah dengan tidak mengubah maknanya (min ghairi ta’arif)
e.      Tidak menghlangkan pengertian lafaz (min ghair ta’thil)
f.       Tidak mengingkarinya (min ghair ilhad)
g.     Tidak menggambarkan bentuk Tuhan, baik dalam pikiran, hati maupun dgn indra  (min ghair takyif at-takyif)
h.     Tidak menyerupakan (apalagi menyamakan) sifat-sifat-Nya (min ghair tamtsil rabb al-‘alamin)

KHALAF; AHLUSSUNNAH
(AL-ASY’ARI DAN AL-MATURIDI
AL-ASY’ARI (875-935 M)
a.   Sifat-sifat Allah seperti mempunyai tangan dan kaki tidak boleh diartikan secara harfiah, tetapi secara simbolis. Sifat-sifat Allah unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
b.  Kebebasan dalam Berkehendak (Free-will)
Allah pencipta (Khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia adalah yang mengupayakannya (muktasib)
c.   Akal dan wahyu dan criteria baik dan buruk
-Al-Asy’ari mengutamakan wahyu sementara Mu’tazilah mengutamakan akal.
-dalam menentukan baik buruk, Al-Asy’ari bahwa harus berdasarkan wahyu, sedang Mu’tazilah mengutamakan akal.

d. Qadimnya Al-Qur’an
Mu’tazilah: Al-qur’an adalah diciptakan (mahluk) dan tidak Qadim
Hambali: Al-Qur’an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan)
Asy’ari: Al-Qur’an tidak diciptakan
e.   Melihat Allah
Mu’tazilah: mengingkari Ru’yatullah
Asy’ari: Allah dapat dilihat diakhirat, tetapi tidak dapat digambarkan.
f.    Keadilan
Mu’tazilah: mengharuskan Allah berbuat adil kepada manusia
Asy’ari: Allah tidak memiliki keharusan apapun kepada manusia.
g.   Kedudukan orang berdosa
Asy’ariyah menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah antara iman dan kufur.

PERBANDINGAN ANTARALIRAN
PELAKU DOSA BESAR
a.  Aliran Khawarij:
Al-Maidah ayat 44: ….Barang siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang Kafir. Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar dianggap kafir
b.  Aliran Murji’ah: Pelaku dosa besar tidak menjadi kafir. Disiksa di neraka dan tidak kekal.
c.   Aliran Mu’tazilah: Al-Manzilah bain al-manzilatain.
d.  Aliran Asy’ariah: tidak mengkafirkan bagi orang yang berbuat dosa besar, dan mereka masih beriman. Akan tetapi, jika dosa besar itudilakukannya dengan menganggap bahwa hai ini diperbolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia dipandang telah kafir.
e.   Aliran Syi’ah Zaidiah: Percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, jika ia belum bertobat dengan pertobatan yang sesungguhnya.

PERBANDINGAN ANTARALIRAN
IMAN DAN KUFUR
a.        Khawarij: orang yang menyatakan diri beriman kepada Allah SWT dan Muhammad saw, tetapi tidak melaksanakan kewajiban agama maka mereka telah kafir
b.       Murji’ah: Iman terletak dalam Qalbu, adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya merupakan refleksi dari yang ada di dalam qalbu.Imannya masih sempurna walaupun ia tidak melaksanakan kewajiban agama.
c.       Mu’tazilah: Amal perbuatan merupakan salah satu unsure terpenting dalam konsep Iman.
d.       Asy’ariah: Iman adalah Tashdiq (membenarkan dalam hati), Qaul, dan Amal. Persyaratan minimal untuk adanya iman hanya tashdiq.

PERBANDINGAN ANTARALIRAN
PERBUATAN TUHAN DAN PERBUTAN MANUSIA


PERBUATAN TUHAN
a.        Mu’tazilah: Perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Atau kewajiban Tuhan berbuat baik dan Tuhan tidak berbuat dholim.
b.       Asy’ariah: Tuhan dapat berbuat sekehendak hati-Nya terhadap mahluk, karena Tuhan mempunyai kekuasaan dan kehendak mutlak.
PERBUTAN MANUSIA
a.        Jabariah: segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya.
b.       Qadariah: segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri.
c.       Mu’tazilah: manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya (free will).
d.       Asy’ariah: manusia diibaratkan anak kecil yang tidak mempunyai pilihan dalam hidupnya.

PERBANDINGAN ANTARALIRAN
SIFAT-SIFAT TUHAN
1.     Mu’tazilah: Tuhan tidak mempunyai sifat jasmani, apabila mempunyai sifat, tentu Tuhan mempunyai ukuran panjang, lebar, dalam, dll. dan Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat
2.     Asy’ariah: dengan mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Dan Tuhan dapat dilihat di akhirat.
3.     Syi’ah Rafidhah: menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Mereka menilai bahwa pengetahuan itu bersifat baru tidak kodim. Bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum Allah menghendakinya.


PERBANDINGAN MUTLAK TUHAN
DAN KEADILAN TUHAN

1.     -Mu’tazilah: Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat dholim dengan memaksakan kehendak pada hamba-Nya kemudian hambalah yang harus menanggung akibat perbuatan-Nya.
-kekuasaan Tuhan sebenarnya tidak mutlak lagi. Ketidak mutlakan Tuhan disebabkan oleh kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia.
2. Asy’ariah: Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap mahluk-Nya dan dapat berkehendak semau-Nya.

No comments:

Post a Comment