Jabariah dan Qadariah
Jabariah
Para Pemuka dan Doktrin-doktrin Pokok Jabariah
a.
Jahm bin Shafwan
Faham Jabariah adalah suatu kelompok atau aliran yang berusaha
menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan
menyandarkannya kepada Allah SWT. Dengan kata lain, manusia mengerjakan
perbuatannya dalam keadaan terpakasa (fatalism), yaitu paham yng mengatakan
perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan
مّا كانوا
ليؤمنوا الاّ ان يّشاء الله ........(الانعام : ااا)
والله خلقكم وما
تعملون (الصافات : 96
Pendapat-pendapatnya berkaitan dgn Teologi
a.
Manusia
tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak
sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
b.
Surga
dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
c.
Iman
adalah makrifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya sama
dengan konsep iman yang dimajukan kaum Mur’jiah.
d.
Kalam
Tuhan adalah makhluk. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan
manusia, seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak
dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
Ja’d bin Dirham
Doktrin:
1.
Al-Qur’an
itu adalah mahluk. Oleh karena itu dia baru
2.
Allah
tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat,
dan mendengar.
3.
Manusia
terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
4.
Tuhan
tidak dapat dilihat di akhirat, akan tetapi Tuhan dapat memindahkan potensi
hati (makrifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.
Qadariah (Ma’bad
Al-Jauhani w.80 H)
Merupakan aliran yang percaya bahwa (1) segala tindakan manusia
tidak diintervensi tangan Tuhan. Dengan kata lain, tiap-tiap orang adalah
pencipta bagi segala perbuatannya. (2) Seseorang diberi ganjaran surga ataupun
ganjaran siksa neraka itu berdasarkan pilihannya sendiri, bukan oleh takdir
Tuhan (3) Manusia tidak pantas menerima siksaan atau tindakan salah yang
dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya.
S. Ar-Ra’d ayat 11
انّ الله
لايغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما با نفسهم
S. An-Nisa’ ayat 111
ومن يكسب اثما
فانّما يكسبه على نفسه
Dan barang siapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya
untuk (kesulitan) dirinya sendiri,….
MU’TAZILAH
Mu’tazilah (Washil bin
Atha’ w.131H)
Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar itu
mukmin dan tidak kafir
Al-Ushul Al-Khamsah: Lima Ajaran dasar Teologi Mu’tazilah
1.
At-Tauhid (pengesaan Tuhan)
a.
Mu’tazilah
menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan
(antropomorfisme/tajassum), dan menolak Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.
b.
Tuhan
maha melihat, mendengar, kuasa dsb itu bukan sifat melainkan dzatnya.
c.
Tidak
ada satupun yang dapat menyerupai Tuhan, begitu pula sebaliknya, Tuhan tidak
serupa dengan mahluknya.(Asy-Syura ayat: 11)
ليس كمثله شئ......
2.
Al-Adl
Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil
menurut sudut pandang manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya
yang baik (ash-shalah) dan terbaik (al-ashlah), dan bukan yang
tidak baik. Ajaran adil berkaitan dengan:
a.
Perbuatan manusia
Manusia
melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari kehendak dan
kekuasaan Tuhan.
b.
Berbuat baik dan terbaik
Kewajiban Tuhan
untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan
aniaya karena akan menimbulkan kesan bahwa Tuhan penjahat dan penganiaya, dan
sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan melakukannya.
c.
Mengutus rasul (mengutus Rasul Kewajiban Tuhan), alasannya:
a.
Tuhan
wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat terwujud, kecuali
dengan mengutus Rasul
b.
Al-Qur’an
dengan tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasihan kepada
manusia. Cara terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan pengutusan Rasul.
c.
Tujuan
diciptakannya manusia untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut
berhasil, tidak ada jalan lain selain mengutus Rasul.
3.
Al-Wa’d wa Al-Wa’id (Janji dan ancaman)
Ajaran ketiga
ini tidak memberikan peluang bagi Tuhan , selain menunaikan janjinya, yaitu
memberikan pahala orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat,
kecuali orang yang bertobat nasukha.
4.
Al-Manzilah baina al-Manzilatain
Status orang
beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Orang tersebut berada di antara dua
posisi/tempat
5.
Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy Al-Munkar
Pengakuan
keimanan harus dibuktikann dengan perbuatan baik, diantaranya dengan menyuruh
orang berbuat baik dan dan mencegahnya dari kejahatan.
Syarat-syarat:
a.
Ia
mengetahui perbuatan yang disuruh itu ma’ruf dan yang dilarang itu munkar.
b.
Ia
mengetahui bahwa kemungkaran telah dilakukan orang.
c.
Ia mengetahui
bahwa perbuatan amar ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa madharat yang
lebih besar.
d.
Ia
mengetahui paling tidak menduga bahwa tidakannya tidak akan membahayakan diri
dan hartanya.
No comments:
Post a Comment