Wednesday, 4 February 2015

Materi Jabariyah



Jabariah dan Qadariah

Jabariah
Para Pemuka dan Doktrin-doktrin Pokok Jabariah
a.      Jahm bin Shafwan
Faham Jabariah adalah suatu kelompok atau aliran yang berusaha menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah SWT. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpakasa (fatalism), yaitu paham yng mengatakan perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan
مّا كانوا ليؤمنوا الاّ ان يّشاء الله ........(الانعام : ااا)
والله خلقكم وما تعملون (الصافات : 96

Pendapat-pendapatnya berkaitan dgn Teologi
a.       Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
b.      Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
c.       Iman adalah makrifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya sama dengan konsep iman yang dimajukan kaum Mur’jiah.
d.      Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia, seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
Ja’d bin Dirham
Doktrin:
1.      Al-Qur’an itu adalah mahluk. Oleh karena itu dia baru
2.      Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat, dan mendengar.
3.      Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
4.      Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat, akan tetapi Tuhan dapat memindahkan potensi hati (makrifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.

Qadariah (Ma’bad Al-Jauhani w.80 H)
Merupakan aliran yang percaya bahwa (1) segala tindakan manusia tidak diintervensi tangan Tuhan. Dengan kata lain, tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. (2) Seseorang diberi ganjaran surga ataupun ganjaran siksa neraka itu berdasarkan pilihannya sendiri, bukan oleh takdir Tuhan (3) Manusia tidak pantas menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya.

S. Ar-Ra’d ayat 11
انّ الله لايغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما با نفسهم
S. An-Nisa’ ayat 111
ومن يكسب اثما فانّما يكسبه على نفسه
Dan barang siapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri,….

MU’TAZILAH

Mu’tazilah (Washil bin Atha’ w.131H)
Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar itu mukmin dan tidak kafir
Al-Ushul Al-Khamsah: Lima Ajaran dasar Teologi Mu’tazilah
1.      At-Tauhid (pengesaan Tuhan)
a.       Mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan (antropomorfisme/tajassum), dan menolak Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.
b.      Tuhan maha melihat, mendengar, kuasa dsb itu bukan sifat melainkan dzatnya.
c.       Tidak ada satupun yang dapat menyerupai Tuhan, begitu pula sebaliknya, Tuhan tidak serupa dengan mahluknya.(Asy-Syura ayat: 11)
ليس كمثله شئ......
2.      Al-Adl
Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya yang baik (ash-shalah) dan terbaik (al-ashlah), dan bukan yang tidak baik. Ajaran adil berkaitan dengan:
a.      Perbuatan manusia
Manusia melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan.
b.      Berbuat baik dan terbaik
Kewajiban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan bahwa Tuhan penjahat dan penganiaya, dan sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan melakukannya.
c.       Mengutus rasul (mengutus Rasul Kewajiban Tuhan), alasannya:
a.       Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat terwujud, kecuali dengan mengutus Rasul
b.      Al-Qur’an dengan tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasihan kepada manusia. Cara terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan pengutusan Rasul.
c.       Tujuan diciptakannya manusia untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain selain mengutus Rasul.
3.      Al-Wa’d wa Al-Wa’id (Janji dan ancaman)
Ajaran ketiga ini tidak memberikan peluang bagi Tuhan , selain menunaikan janjinya, yaitu memberikan pahala orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, kecuali orang yang bertobat nasukha.
4.      Al-Manzilah baina al-Manzilatain
Status orang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Orang tersebut berada di antara dua posisi/tempat
5.      Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy Al-Munkar
Pengakuan keimanan harus dibuktikann dengan perbuatan baik, diantaranya dengan menyuruh orang berbuat baik dan dan mencegahnya dari kejahatan.
Syarat-syarat:
a.       Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu ma’ruf dan yang dilarang itu munkar.
b.      Ia mengetahui bahwa kemungkaran telah dilakukan orang.
c.       Ia mengetahui bahwa perbuatan amar ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa madharat yang lebih besar.
d.      Ia mengetahui paling tidak menduga bahwa tidakannya tidak akan membahayakan diri dan hartanya.


No comments:

Post a Comment